KONSULTASI KESEHATAN: Dok Anak saya 9 tahun dinyatakan Mata Silindris, Apakah itu ?

1517270867527-7.jpg

1517270946523-7.jpg

DOK, Anak saya berusia 9 tahun, saat berkonsultasi ke dokter dinyatakan mata silinder. Apakah mata silinder itu, dok ? Apa penyebab dan Bagiamana penanganannya ? Apakah dampaknya bila tidak segera diobati ?

1517270985887-7.jpg

Astigmatisme atau mata silinder adalah gangguan penglihatan akibat kelainan pada kelengkungan kornea atau lensa. Kondisi ini menyebabkan pandangan kabur, baik dalam jarak dekat maupun jauh. Astigmatisme dapat terjadi bersamaan dengan rabun dekat (hiperopia) atau rabun jauh (miopia). Meski umumnya terjadi saat lahir, astigmatisme juga dapat disebabkan oleh cedera pada mata, atau akibat operasi mata. Astigmatisme dibagi menjadi dua jenis, berdasarkan letak kelainannya. Astigmatisme yang disebabkan oleh kelainan pada kelengkungan kornea disebut astigmatisme korneal. Sedangkan bila kelainannya pada kelengkungan lensa mata, disebut astigmatisme lentikular.

Pada beberapa kasus, astigmatisme tidak menimbulkan gejala sama sekali. Bila ada gejala, keluhan yang dirasakan tiap orang dapat berbeda-beda, meliputi:

  • Distorsi penglihatan, misalnya melihat garis lurus tampak miring.
  • Pandangan yang samar atau tidak fokus.
  • Sulit melihat saat malam hari.
  • Mata sering tegang dan mudah lelah.
  • Sering menyipitkan mata saat melihat sesuatu.
  • Sensitif terhadap sorotan cahaya (fotofobia).
  • Kesulitan membedakan warna yang mirip.
  • Penglihatan ganda (pada kasus astigmatisme yang parah).
  • Pusing atau sakit kepala.

Penyebab

Astigmatisme disebabkan oleh kelainan pada kelengkungan kornea atau lensa mata. Belum diketahui apa yang memicu kelainan tersebut, namun diduga terkait dengan faktor keturunan.

Kornea dan lensa adalah bagian mata yang berfungsi membiaskan dan meneruskan cahaya yang masuk ke retina. Pada mata yang mengalami astigmatisme, cahaya yang masuk tidak terbiaskan secara sempurna, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi tidak fokus.

Meskipun umumnya terjadi saat lahir, astigmastisme juga dapat terjadi akibat cedera pada mata, atau karena efek samping operasi mata. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko astigmatisme adalah:

  • Rabun jauh atau rabun dekat yang sudah parah.
  • Mengalami gangguan mata lainnya, seperti keratoconus (degenerasi kornea) atau penipisan kornea.
  • Menderita sindrom Down.
  • Terdapat benjolan pada kelopak mata yang menekan kornea.
  • Terlahir prematur, atau dengan berat badan lahir rendah.
  • Anak dengn riwayat alergi sering mengalami gangguan ini

1557032467733.jpg

  • Penanganan astigmatisme atau mata silinder tergantung pada skala dioptri penderita. Pada mata silinder diatas 1,5, umumnya dokter akan menyarankan pasien menggunakan kacamata atau lensa kontak. Bila pasien menginginkan metode pengobatan lain, bedah refraktif dapat menjadi pilihan. Beberapa metode bedah yang dapat dilakukan untuk menangani astigmatisme adalah:
  • Laser-assisted in situ keratomileusis (LASIK). LASIK menggunakan laser guna membentuk ulang kornea, dengan mengangkat sebagian jaringan kornea. Tujuannya adalah untuk memperbaiki fokus cahaya ke retina.
  • Laser-assisted subepithelial keratectomy (LASEK). Pada prosedur ini, dokter bedah akan mengendurkan lapisan pelindung kornea (epithelium) dengan alkohol khusus, lalu membentuk ulang kornea menggunakan laser. Setelah itu, epithelium akan kembali ditempatkan ke posisi awalnya.
  • Photorefractive keratectomy (PRK). Prosedur PRK sama seperti LASEK, hanya saja pada tindakan PRK, epithelium akan diangkat. Epithelium akan kembali terbentuk secara alami mengikuti kelengkungan kornea yang baru.
  • Selain tiga metode di atas, ada metode bedah refraktif lain, yaitu refractive lens exchange (RLE), atau disebut juga clear lens extraction (CLE). RLE menggunakan lensa tiruan untuk mengganti lensa mata yang tidak bisa diperbaiki. Selain untuk mengobati astigmatisme, RLE juga dapat diterapkan pada penderita katarak.

Dampak Astigmatisme

  • Astigmatisme yang terjadi hanya pada satu mata sejak lahir, dapat memicu ambliopia (lazy eye), atau biasa disebut mata malas. Kondisi ini terjadi karena otak terbiasa mengabaikan sinyal yang dikirim oleh mata tersebut. Ambliopia dapat diobati dengan penutup mata bila dideteksi lebih awal, sebelum jalur penglihatan di otak berkembang sepenuhnya.

wp-1565399090265..jpg

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: