Defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD deficiency), Gejala dan Penanganannya

Defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD deficiency) adalah suatu kelainan gen pada kromosom X yang mempengaruhi sel darah merah. G6PD sendiri merupakan enzim yang berperan dalam berbagai reaksi kimia di dalam sel, salah satunya adalah untuk menghasilkan senyawa nikotinamid adenin dinukleotida fosfat tereduksi (NADPH), yang dapat mencegah kerusakan sel akibat oksidasi.

Ahli matematika Pythagoras dilarang untuk memakan kacang parang karena dapat menyebabkan favaisme yang disebabkan defisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase sehingga sel darah merah akan mengalami lisis dalam jangka waktu 24-48 jam setalah mengonsumsi kacang parang. Defisiensi enzim ini dapat berakibat pada reaksi tidak normal terhadap obat-obatan tertentu. Pada tahun 1926, Pamaquine yang merupakan obat anti-malaria pada saat itu, menimbulkan gejala aneh pada beberapa pengidap malaria setelah beberapa hari pengobatan. Ciri yang ditunjukkan adalah air seni menghitam, mengalami sakit kuning, kadar hemoglobin menurun. Pada beberapa kasus, terjadi kerusakan sel darah merah besar-besaran dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini dapat diturunkan dan terpaut pada kromosom X. Defisiensi enzim ini juga mengakibatkan peroksida merusak membran sel karena tidak adanya NADPH yang diproduksi untuk mengembalikan glutation tereduksi.[2] Glutation tereduksi berguna untuk menjaga bentuk sel darah merah dengan menjaga struktur hemoglobin.

Sel darah merah yang berfungsi mengangkut dan mengedarkan oksigen, lebih rentan terhadap oksidasi dibandingkan dengan sel-sel tubuh lainnya. Pada penderita defisiensi enzim G6PD, sel darah merah mudah rusak akibat berbagai gangguan oksidasi, seperti obat-obatan, bahan kimia, infeksi, kacang fava, atau akibat ketoasidosis. Kondisi tersebut menyebabkan sel darah merah pecah, yang kemudian memicu terjadinya anemia hemolitik.

Beberapa kelompok senyawa yang dapat memicu munculnya anemia hemolitik pada penderita kekurangan G6PD adalah:

  • Antimalaria, golongan obat yang digunakan untuk mengobati malaria.
  • Sulfonamid, golongan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi.
  • Aspirin, obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri, demam dan pembengkakan pada tubuh.
  • Beberapa obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs).
  • Umumnya penderita kekurangan G6PD tidak menunjukkan gejala tertentu (asimptomatik). Akan tetapi pada saat penderita terpapar senyawa yang dapat memicu oksidasi pada sel, akan terjadi anemia hemolitik. Setelah senyawa tersebut keluar dari tubuh penderita, gejala anemia hemolitik juga akan hilang dengan sendirinya.

wp-1494709980767.

Sebagian besar dari penderita defisiensi G6PD tidak bergejala. Namun, ketika terpapar faktor pemicu, maka dapat terjadi anemia hemolitik akut, yang dapat mengancam nyawa terutama pada anak–anak.

Waktu dari gejala dialami dalam 2-3 hari setelah paparan terhadap faktor pemicu. Gejala umum dari defisiensi G6PD, yang menyebabkan anemia hemolitik, adalah sebagai berikut:

  • Detak jantung cepat
  • Nafas berat, sesak
  • Warna urin lebih gelap
  • Kelelahan berat
  • Pucat
  • Demam
  • Pusing
  • Kulit atau mata berwarna kuning (jaundice) 
  • Limpa yang membesar
  • Gejala pencernaan seperti diare, mual dan rasa sakit atau tidak nyaman pada perut.

Selain itu, faktor pemicu dari gejala G6PD dapat terjadi setelah memakai obat-obatan seperti anti malaria (primakuin), sulfonamides, aspirin, NSAIDs (antiinflamasi non steroid) atau mengonsumsi makanan seperti kacang parang/fava atau jenis kacang-kacangan lain yang dapat memicu kerusakan sel darah merah. Namun setelah diobati gejala-gejala tersebut akan menghilang dalam beberapa minggu.

Anemia hemolitik akut yang disebabkan dari konsumsi kacang parang (favism) dapat berjalan cepat. Favism dapat terjadi pada segala umur, tetapi seringkali timbul dan lebih berat pada anak–anak.

Pada kasus yang jarang, orang yang menderita G6PD dapat mengalami anemia hemolitik kronis yang terjadi terus menerus dan timbul tanpa perlunya faktor pemicu, yang dikenal dengan tipe anemia hemolitik non-spherocytic. Penderita G6PD kebanyakan laki–laki dan biasanya mengalami neonatal jaundice (kuning saat lahir).

Penyebab

  • Penyebab terjadinya defisiensi G6PD adalah mutasi pada gen pengkode enzim G6PD yang terletak pada kromosom X, yang dapat diwariskan dari orangtua kepada anaknya. Peluang munculnya kekurangan enzim G6PD pada laki-laki lebih besar dibandingkan pada perempuan karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Pada perempuan, kondisi ini dapat muncul hanya apabila kedua orangtua merupakan penderita atau pembawa faktor kelainan gen enzim G6PD.
  • Defisiensi G6PD adalah kondisi genetik yang diturunkan dari satu atau kedua orang tua kepada anak mereka. Gen yang cacat atau rusak adalah Gen G6PD, yang terdapat  dalam kromosom X yang merupakan 1 dari 2 kromosom sex.

  • Pria hanya memiliki 1 kromosom X (XY), sedangkan wanita memiliki 2 kromosom X (XX), oleh karena itu, hanya diperlukan 1 salinan gen yang cacat pada pria untuk menyebabkan defisiensi G6PD. Pria yang menderita kondisi ini tidak dapat menurunkan gen yang cacat ini kepada anak laki–lakinya karena pria selalu menurunkan kromosom Y kepada anak laki–laki, sedangkan pria dapat menurunkan mutasi genetik pada anak perempuan karena pria dapat menurunkan gen yang cacat dalam kromosom X.

  • Sedangkan pada wanita, defisiensi G6PD dapat terjadi jika terdapat mutasi pada kedua salinan genetik tersebut yang mengharuskan kedua orang tua merupakan penderita atau pembawa kelainan gen ini. Jika hanya terdapat 1 salinan gen yang cacat, maka wanita tersebut akan menjadi pembawa penyakit ini tetapi tidak menunjukkan gejala apapun. Oleh sebab itu. Laki–laki lebih sering mengalami defisiensi G6PD dibanding wanita.

1557032304580.jpgDiagnosis Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD Deficiency)

  • Beberapa metode diagnosis yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kekurangan enzim G6PD pada seseorang antara lain:
  • Deteksi aktivitas enzim G6PD. Metode pengujian aktivitas enzim G6PD bertujuan untuk melihat aktivitas enzim pada sel darah merah. Tes dilakukan dengan mengambil sampel darah penderita kemudian dianalisis di laboratorium. Pada penderita defisiensi enzim G6PD, aktivitas enzim akan ditemukan lebih rendah dari aktivitas enzim pada orang normal. Tes ini dapat diulangi beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Risiko dari tes ini antara lain yaitu perdarahan, kepala berkunang-kunang, hematoma, dan infeksi.
  • Penghitungan sel-sel darah. Tes ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah. Tujuannya untuk menentukan apakah terjadi anemia pada penderita kekurangan enzim G6PD serta ketidaknormalan jumlah sel darah. Dalam tes ini, sampel darah pasien akan diambil oleh dokter, kemudian dilakukan penghitungan melalui mikroskop.
  • Tes serum hemoglobin. Tes ini dilakukan dengan mengukur jumlah hemoglobin yang terkandung di dalam plasma darah. Normalnya hemoglobin akan terkandung dalam sel darah merah dan tidak akan ada di dalam plasma darah. Namun jika sel darah merah mengalami kerusakan, terdapat kemungkinan hemoglobin akan terkandung dalam plasma darah. Pada penderita anemia hemolitik, sel darah merah akan rusak dengan cepat sehingga kadar serum hemoglobin dalam plasma darah akan meningkat.
  • Penghitungan sel retikulosit. Sel retikulosit merupakan sel darah merah yang belum mengalami pematangan. Sel retikulosit diproduksi di dalam sumsum tulang kemudian dilepaskan melalui pembuluh darah. Pemeriksaan retikulosit dilakukan dengan mengambil sampel darah biasanya dari pembuluh darah vena di lipat siku. Darah yang diambil kemudian dibawa ke laboratorium untuk dihitung jumlah sel retikulositnya. Pada penderita anemia hemolitik, kadar retikulosit akan meningkat akibat kerusakan sel darah merah.
  • Pemeriksaan genetik. Pemeriksaan genetik dapat dilakukan sebagai konfirmasi adanya kelainan pada gen enzim G6PD. Pemeriksaan genetik dilakukan dengan mengambil sampel DNA pada pasien, kemudian dianalisis dengan mendeteksi adanya mutasi DNA.
  • Beberapa pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk memberikan hasil diagnosis yang lebih akurat adalah:
    • Pemeriksaan sediaan hapus darah tepi.
    • Pemeriksaan kadar enzim laktat dehidrogenase.
    • Pemeriksaan kadar bilirubin.
    • Pemeriksaan urine untuk mendeteksi hemoglobin.

1557032467733.jpgPengobatan Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD Deficiency)

  • Tujuan utama pengobatan kekurangan enzim G6PD adalah menghilangkan pemicu terjadinya gejala-gejala kekurangan enzim tersebut pada pasien. Jika disebabkan oleh infeksi, maka pengobatan yang diberikan bertujuan untuk menghilangkan infeksinya. Jika pasien sedang mengonsumsi obat yang dapat memicu munculnya gejala-gejala kekurangan enzim G6PD, maka pasien harus berhenti mengonsumsi obat-obatan tersebut.
  • Ketika timbul anemia hemolitik pada defisiensi G6PD, pengobatan yang diberikan bertujuan untuk mengatasi anemia, misalnya dengan transfusi darah untuk menggantikan-sel sel darah yang rusak, serta terapi oksigen untuk menjaga kadar oksigen dalam darah.
  • Contoh-contoh pengobatan lain yang dapat dilakukan dalam kasus defisiensi G6PD adalah:
    • Fototerapi untuk bayi. Pada bayi yang mengalami kekurangan enzim G6PD, fototerapi dilakukan untuk menghilangkan kekuningan pada kulitnya. Kekuningan pada bayi dengan defisiensi G6PD disebabkan oleh kadar bilirubin yang berlebih akibat pecahnya sel darah merah. Metode fototerapi dilakukan dengan menempatkan bayi pada inkubator khusus yang memiliki lampu fluoresen. Cahaya dari lampu fluoresen akan diserap oleh kulit bayi sehingga bilirubin akan diubah dan lebih mudah dikeluarkan dari tubuh melalui urine dan feses.
    • Transfusi darah. Transfusi darah dapat diberikan kepada bayi yang menderita kekurangan enzim G6PD dan mengalami kekuningan. Selain itu, transfusi darah juga diberikan pada pasien defisiensi G6PD yang mengalami anemia hemolitik, terutama yang diakibatkan oleh favisme (memakan biji-bijian fava)
      Suplemen asam folat. Asam folat dapat membantu pembentukan dan pematangan sel darah merah. Asam folat dalam bentuk suplemen dapat diberikan kepada penderita defisiensi G6PD yang mengalami anemia hemolitik.
    • Vaksinasi Hepatitis A dan B. Hepatitis A dan hepatitis B dapat memicu rusaknya sel darah merah terutama pada penderita defisiensi G6PD. Untuk mencegah infeksi, penderita diharuskan menjalani vaksinasi hepatitis A dan B.
    • Khusus pada bayi yang menderita defisiensi G6PD, pengecekan kondisi bayi terkait kelebihan bilirubin harus rutin dilakukan. Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya bilirubin ensefalopati pada bayi.
    • Pada umumnya, penderita defisiensi G6PD dapat sembuh dengan baik setelah faktor pemicu kekurangan enzim tersebut dihiilangkan melalui pengobatan. Akan tetapi penting bagi penderita untuk mengetahui langkah penanganan pertama pada saat gejala defisiensi G6PD muncul kembali. Selain itu penting juga bagi penderita untuk menghindari obat-obatan dan makanan yang dapat memicu timbulnya gejala.

Pencegahan

  • Orang dengan defisiensi G6PD harus dengan ketat menghindari hal–hal yang dapat memicu terjadinya serangan. Bicarakan dengan dokter tentang obat–obatan dan faktor pemicu lainnya.
  • Konseling genetik atau pemeriksaan bagi orang yang mempunyai riwayat keluarga dengan defisiensi G6PD

wp-1565318841709..jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s