Gangguan Tidur Pada Anak Karena Alergi Makanan

1559984292540.jpg

Gangguan Tidur Pada Anak Karena Alergi Makanan

1559984139606.jpg

Penyebab gangguan tidur sangat banyak, salah satunya disbabkan oleh dampak alergi makanan. Gangguan tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai fungsi sosial, pertumbuhan dan perkembangan anak, maupun gangguan pada fungsi lainnya. Terdapat berbagai jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi gangguan tidur tersebut. Salah satu jenis gangguan tidur tersebut adalah “Food Allergy Insomnia” atau insomnia alergi makanan.

Di samping pemberian nutrisi yang baik, ternyata aktifitas tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia khususnya usia anak. Ketika dalam aktfitas tidur terjadi perbaikan fungsi metabolisme, fungsi homeostasis, regulasi panas tubuh, konservasi energi dan fungsi tubuh lainnya. Kualitas dan kuantitas tidur setiap individu berbeda. Semakin bertambah usia seseorang kebutuhan untuk tidurnya semakin berkurang. Pada bayi dan anak kecil sebagian besar waktu didominasi untuk aktifitas tidur, sedang pada lanjut usia sebaliknya.

Insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Insomnia adalah bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala suatu penyakit. Terminologi insomnia sering digunakan untuk beberapa bentuk dan tipe gangguan tidur. Terdapat beberapa jenis insomnia diantaranya adalah Sleep Onset Insomnia, Delayed Sleep Phase Syndrome), Idiopathic Insomnia, Psychophysiological Insomnia, Childhood Insomnia (Limit-Setting Sleep Disorder), Food Allergy Insomnia, Enviornmental Insomnia (Enviornmental Sleep Disorder), Transient Insomnia (Adjustment Sleep Disorder), Periodic Insomnia (Non 24-Hour Sleep-Wake Syndrome, Altitude Insomnia, Hypnotic-Dependency Insomnia (Hypnotic-Dependent Sleep Disorder), Stimulant-Dependent Sleep Disorder, Alcohol-Dependent Insomnia (Alcohol-Dependent Sleep Disorder) dan Toxin-Induced Sleep Disorder.

Gangguan Tidur karena alergi makanan atau Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun. Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.

Penelitian yang telah dilakukan penulis tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24th International Conggress of Pediatric Cancun Mexico bulan Agustus 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Gejala Gangguan Tidur pada anak

  • Bayi sering terbangun malam hari, sering minta gendong dan seperti haus atau seperti minta minum, digendong diam ditaruh di kasur menangis.
  • Anak memulai tidur sulit tidur sering larut malam, sering terbangun malam hari, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung. Tidur posisi nunggging seperti orang sujud saat salat.
  • Sering terbangun malam hari, duduk dan tidur lagi.
  • Sering mimpi buruk, mengigau atau menangis saat tidur
  • Bruxism (gigi gemeratak atau beradu gigi)

Jenis gangguan tidur lain yang sering menyertai Insomnia Alergi Makanan adalah

  • Somnambulisme adalah suatu keadaan perubahan kesadaran, fenomena tidur-bangun terjadi pada saat bersamaan. Sewaktu tidur penderita kadang melakukan aktivitas motorik yang biasa dilakukan seperti berjalan, berpakaian atau pergi ke kamar mandi, berbicara, menjerit, bahkan mengendarai mobil. Akhir kegiatan tersebut kadang penderita terjaga, kemudian sejenak kebingungan dan tertidur kembali. Ia tidak ingat kejadian tersebut.
  • Night terror biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur, dengan gejala tiba-tiba bangun dengan teriakan, kepanikan atau menangis disertai ketakutan dan kecemasan. Penderita kadang terjaga tetapi mengalami kebingungan dan disorientasi. Pada saat serangan sulit dibangunkan atau ditenangkan. Sedang nightmare adalah tidur dengan mimpi yang menakutkan. Akibat mimpinya yang menakutkan itu penderita akan terbangun dalam keadaan ketakutan. Mereka yang sering mengalami episode nightmare dalam hidupnya mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan skizofrenia, namun juga mereka ini adalah orang yang kreatif dan artistik.
  • Nocturnal myoclonus adalah keadaan dimana terdapat pergerakan periodik dari tungkai ke bawah ketika tidur.

Sejauh ini belum ada penelitian yang memastikan sebab akibat gangguan tidur bisa menimbulkan berbagai hal yang mengganggu. tetapi seringkali bila terjadi gangguan tidur juga disertai oleh gangguan perilaku lainnya. Atau sebnaliknya pada anak gangguan perilaku sering mengalami gangguan tidur tetapu bukan sebagai sebab akibat. Tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa gangguan tidur yang disebabkan karena alergi makanan selalu disertai dengan gangguan organ tubuh serta gangguan perilaku seperti meningkatnya. Tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut terutama bukan karena akibat langsung gangguan tidur itu sendiri tetapi lebih disebabkan karena pengaruh alergi makanan yang terjadi.

Gangguan Yang Menyertai Gangguan Tidur

  • Sakit kepala, migraine, vertigo, nyeri otot dan tulang, nyeri perut
  • agresifitas anak meningkat, ditandai anak suka gemes, suku memukul muka orang yang menggendong, suka menggigit atau menjilat. Pada anak yang ebih besar kadang suka memukul, mencakar atau mencubit
  • gangguan emosi meningkat, ditandai mudah marah, sulit diberi tahu, keras kepala dan sering berteriak
  • hiperaktif atau overaktif , ditandai anak menjadi sangat aktif, bergerak terus tidak bisa diam, banyak bergerak, tidak bisa duduk lama, suka memanjat
  • gangguan konsentrasi, ditandai saat memainkan maianan mudah bosan sering berganti mainan, tidak bisa duduk lama, sering bengong, bila dipanggil harus beberapa kali baru menoleh
  • gangguan belajar, sulit menerima pelajaran, tidak mewarnai lama, sering lupa, malas belajar
  • Sering terjadi pada penderita Autism dan ADHD

DIAGNOSIS INSOMNIA ALERGI MAKANAN

  • Diagnosis insomnia alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Allergy Behaviour Clinic Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
    Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. Pemeriksaan tes kulit hanya memastikan adanya alergi, bukan untuk memastikan penyebab alergi. Karena pemeriksaan ini meski mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

Penanganan

  • Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey, meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
  • Pengobatan gangguan tidur karena alergi makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila insomnia yang dialami disebabkan karena gangguan alergi makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak mungkin hanya bersifat sementara atau bahkan tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki.

Daftar Pustaka

  • Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
  • Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
  • Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
  • Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3. Review. Japanese.
  • A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 84 No. 4 October 1989, pp. 595-603
  • A. Kahn , M. J. Mozin, G. Casimir, L. Montauk , D. Blum. Insomnia and Cow’s Milk Allergy in Infants. Pediatrics Vol. 76 No. 6 December 1985, pp. 880-884
  • A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Evaluating Persistent Sleeplessness in Children Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 85 No. 4 April 1990, pp. 629-630
  • Pajno GB, Barberio F, Vita D, Caminiti L, Capristo C, Adelardi S, Zirilli G Diagnosis of cow’s milk allergy avoided melatonin intake in infant with insomnia.Sleep. 2004 Nov 1;27(7):1420-1.
  • Morriss R.Insomnia in the chronic fatigue syndrome.BMJ. 1993 Jul 24;307(6898):264.

1559986118645.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s