Penggunaan Obat Anti Virus Pada Anak

wp-1558107017621..jpgPenggunaan Obat Anti Virus Pada Anak

Antivirus merupakan salah satu penggolongan obat yang secara spesifik digunakan untuk mengobati infeksi virus. Sama seperti antibiotik dan antibiotik spektrum luas untuk bakteri, kebanyakan antivirus digunakan untuk infeksi virus yang spesifik, sementara antivirus spektrum luas dapat efektif melawan berbagai macam virus. Tetapi, tidak seperti sebagian besar antibiotik, antivirus tidak dapat membunuh virus dan hanya menghambat virus untuk masuk ke dalam sel atau bereplikasi.

Obat antivirus, antibiotik, antijamur, dan antiparasit termasuk golongan antimikroba, termasuk obat antivirus yang berupa antibodi monoklonal. Sebagian besar antivirus relatif tidak berbahaya bagi pasien, karena itu dapat digunakan untuk mengobati infeksi. Antivirus berbeda dengan virisida, yang merupakan suatu molekul yang dapat menghancurkan virus. Beberapa tumbuhan menghasilkan senyawa antivirus alami seperti pada eukaliptus

Sebagian besar obat antivirus ditujukan untuk mengobati HIV, virus herpes, virus hepatitis B dan C, dan virus influenza A dan B. Peneliti tengah mengembangkan antivirus untuk patogen lainnya. Merancang obat antivirus yang aman dan efektif sangatlah sulit, karena virus menggunakan sel inang untuk bereplikasi. Hal ini yang membuat sulit untuk obat dapat menghambat virus tanpa perlu membahayakan pasien. Selain itu, kendala utama dalam mengembangkan vaksin dan obat antivirus adalah materi genetik virus yang mudah bermutasi sehingga tercipta banyak variasi dari materi genetik Virus.

Munculnya antivirus dikarenakan pengetahuan tentang genetik dan fungsi molekuler dari organisme berkembang, sehingga peneliti dapat memahami struktur dan fungsi dari virus, kemajuan metode untuk menemukan obat baru, meningkatnya tekanan yang diberikan pada tenaga medis untuk menyembuhkan HIV, penyebab dari AIDS.

Penelitian antivirus pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an, sebagian besar untuk menangani virus herpes, dan obat tersebut ditemukan dengan menggunakan metode trial-and-error. Peneliti menumbuhkan kultur sel dan menginfeksikannya dengan virus. Kemudian diberikan senyawa kimia yang diharapkan dapat menghambat aktivitas virus, dan kemudian diamati apakah jumlah virus dalam kultur meningkat atau menurun. Senyawa kimia yang terlihat memberikan efek diteliti lebih lanjut.

Proses tersebut sangat menghabiskan waktu, dan dengan kuranngnya pengetahuan yang dimiliki tentang bagaimana virus tersebut bekerja metode tersebut tidaklah efisien untuk menemukan antivirus yang efektif dengan efek samping yang minimal. Baru pada tahun 1980-an, ketika sekuensing genetik dari virus telah berhasil dilakukan, peneliti dapat mempelajari virus bekerja secara menyeluruh, dan senyawa kimia yang diperlukan untuk menghambat virus bereplikasi.

Obat antivirus adalah golongan obat yang digunakan untuk menangani penyakit-penyakit yang disebabkan infeksi virus. Obat antivirus bekerja dengan cara mematikan serangan virus, menghambat, serta membatasi reproduksi virus di dalam tubuh. Penggunaan obat antivirus hanya diberikan berdasarkan saran dari dokter.

Infeksi virus yang ditangani dengan pemberian obat antivirus, antara lain:

  • Influenza
  • Hepatitis B atau C
  • Herpes simplex
  • Herpes zoster atau cacar ular
  • Cytomegalovirus
  • Human immunodeficiency virus (HIV).

Masing-masing obat antivirus dikelompokkan berdasarkan cara kerjanya, yang berupa:

  • Interferon: peginterferon alfa-2a, peginterferon alfa-2b
  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI): efavirenz, nevirapine, rilpivirine, etravirine
  • Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI): adefovir, entecavir, lamivudine, stavudine, telbivudine, tenofovir, zidovudine
  • Penghambat neuraminidase: oseltamivir, zanamivir
  • Penghambat protease: darunavir, ritonavir, lopinavir/ritonavir, simeprevir
  • Penghambat RNA: ribavirin
  • Penghambat DNA polimerase: acyclovir, valacyclovir, famciclovir, ganciclovir, valganciclovir
  • Direct acting: sofosbuvir, daclatasvir, elbasvir/grazoprevir.

Golongan obat antivirus NNRTI, NRTI, dan penghambat protease juga dikenal dengan obat antiretroviral (ARV), yaitu obat untuk mengatasi HIV/AIDS.

Peringatan:

  • Wanita hamil, menyusui, atau sedang merencanakan kehamilan disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter sebelum menggunakan obat antivirus.
  • Informasikan kepada dokter terlebih dahulu jika ingin memberikan obat ini kepada anak-anak.
  • Harap berhati-hati dalam menggunakan obat ini jika mengalami gangguan fungsi ginjal.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk herba atau suplemen, karena dapat menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis sesudah mengonsumsi obat antivirus, segera temui dokter atau kunjungi rumah sakit terdekat.

Efek Samping Obat Antivirus

Seperti obat-obat lainnya, obat antivirus juga dapat menyebabkan efek samping, meskipun tidak semua orang akan mengalami efek samping setelah mengonsumsi obat, karena respons tubuh terhadap obat bisa berbeda-beda. Beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah mengonsumsi obat antivirus adalah:

  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut dan diare
  • Sulit tidur
  • Masalah kulit
  • Perubahan perilaku
  • Halusinasi.

Jenis-Jenis, Merek Dagang, serta Dosis Obat Antivirus

Berikut ini dosis obat antivirus berdasarkan jenis-jenis obatnya. Sebagai informasi, penggunaan masing-masing jenis obat ini dilarang bagi kelompok usia yang tidak disebutkan di dalam kolom dosis. Untuk mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai efek samping, peringatan, atau interaksi dari masing-masing obat antivirus, silahkan lihat pada halaman Obat A-Z.

Interferon

  • Peginterferon alfa-2a, Merek dagang: Pegasys, Kondisi: Hepatitis B dan C
  • Peginterferon alfa-2b, Merek dagang: Peg Intron, Kondisi: Hepatitis C

Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI)

  • Efavirenz, Merek dagang: Efavirenz, Eviral, Stocrin, Telura, Tenolam-E, Kondisi: HIV
  • Tablet
    Anak-anak: 1 kali sehari, diberikan sebelum tidur pada 2-4 minggu awal.
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan 13-14 kg: 200 mg
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan 15-19 kg: 250 mg
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan 20-24 kg: 300 mg
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan 25-32 kg: 350 mg
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan 32,5-39 kg: 400 mg
    Anak usia 3-17 tahun atau berat badan >39 kg: 600 mg.

Obat dikombinasikan bersama antiretroviral lain.

Nevirapine, Merek dagang Nevirapine: Neviral, Nevirapine, NVP Kondisi: HIV

  • Tablet
    Anak usia 2 bulan-8 tahun: 4 mg/kgBB, 1 kali sehari, selama 14 hari pertama. Setelah itu, dosis ditambahkan menjadi 7 mg/kgBB, 2 kali sehari.
    Anak usia 8-16 tahun: 4 mg/kgBB, 1 kali sehari, selama 14 hari. Setelah itu dilanjutkan dengan dosis 4 mg/kg/BB, 2 kali sehari. Dosis maksimal adalah 400 mg per hari.

Rilpivirine, Merek dagang: Edurant, Kondisi: HIV Anak usia 12 tahun hingga dewasa: 25 mg, 1 kali sehari.

Etravirine, Merek dagang: Intelence, Kondisi: HIV

  • Anak dengan berat badan 30 kg atau lebih dan dewasa: 200 mg, 2 kali sehari.
    Anak usia >6 tahun berat badan 16-19 kg: 100 mg, 2 kali sehari.
    Anak usia >6 tahun berat badan 20-24 kg: 125 mg, 2 kali sehari.
    Anak usia >6 tahun berat badan 25-29 kg: 150 mg, 2 kali sehari.

Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI)

  • Adefovir, Merek dagang: Hepsera, Kondisi: Hepatitis B
  • Entecavir, Merek dagang: Atevir, Baraclude, Kondisi: Hepatitis B
  • Lamivudine, Merek dagang: 3 TC, 3 TC-HBV, Duviral, Hiviral, Lamivudine, LMV, Telura, Tenolam-E Kondisi: Hepatitis B
    Anak usia 2-17 tahun: 3 mg/kgBB, 1 kali sehari. Dosis maksimal 100 mg per hari.
  • Kondisi: HIV, Anak usia >3 bulan: dosis maksimal 300 mg per hari, yang dikombinasikan bersama antiretroviral lain.

Stavudine, Merek dagang: Staviral, Kondisi: HIV

  • Bayi baru lahir sudah lewat 13 hari hingga orang dewasa dengan berat badan < 60 kg: 30 mg, 2 kali sehari.
  • Telbivudine Merek dagang: Sebivo
  • Tenofovir. Merek dagang: Hepamed, Ricovir-EM, Telura, Tenolam-E Untuk Hepatitis B dan HIV
  • Zidovudine. Merek dagang: Duviral, Retrovir, Zidovudine, ZDV, Obat : HIV
  • Anak dengan berat badan 8-13 kg: 100 mg, 2 kali sehari.
    Anak dengan berat badan 14-21 kg: 100 mg, yang diberikan pada pagi hari, dan 200 mg, sebelum tidur malam.
    Anak dengan berat badan 22-30 kg: 200 mg, 2 kali sehari.

Penghambat Neuraminidase

  • Oseltamivir, Merek dagang Oseltamivir: Oseltamivir, Tamiflu. Kondisi: Influenza tipe A dan B
  • Anak-anak: Usia 0-1 bulan: 2 mg/kgBB
    Anak usia 2-3 bulan: 2,5 mg/kgBB
    Anak usia 4-12 bulan: 3 mg/kgBB
    Anak usia >1 tahun dengan berat badan <16 kg: 30 mg
    Anak usia >1 tahun dengan berat badan 16-23 kg: 45 mg
    Anak usia 1 tahun berat badan 24-40 kg: 60 mg
    Anak usia 1 tahun berat badan di atas 40 kg: 75 mg
  • Seluruh dosis untuk anak diberikan sebanyak 2 kali sehari, selama lima hari.

Zanamivir, Merek dagang: Relenza, Kondisi: Influenza tipe A dan B

  • Anak usia > 7 tahun hingga dewasa: 10 mg atau dua kali hirupan hidung, dua kali per hari untuk lima hari. 10 mg atau dua kali hirupan hidung. Digunakan segera setelah terjadi gejala (kurang dari 48 jam). Dua kali dosis diberikan pada hari ke-1 pengobatan, berikan interval sekurang-kurangnya dua jam di antara dua dosis. Dosis secara berturut-turut diberikan tiap 12 jam.

Penghambat protease

  • Darunavir, Merek dagang: Preziesta, Kondisi: HIV
  • Anak usia 3-17 tahun:
    Berat badan 15-29 kg: 600 mg, sekali sehari, atau 375 mg, 2 kali sehari.
    Berat badan 30-39 kg: 675 mg, sekali sehari, atau 450 mg, 2 kali sehari.
    Berat badan 40 kg atau lebih: 800 mg, sekali sehari, atau 600 mg, 2 kali sehari.
  • Lopinavir/ritonavir, Merek dagang: Aluvia (tiap tablet mengandung lopinavir 133,3 mg dan ritonavir 33,3 mg), Kondisi: HIV
  • Simeprevir, Merek dagang: Olysio, Kondisi: Hepatitis C
  • Ritonavir, Merek dagang: Norvir, Kondisi: HIV
  • Anak usia 2 tahun atau lebih: 250 mg/m2 LPT, 2 kali sehari. Dosis ditambah bertahap hingga mencapai 350-400 mg/m2. Dosis maksimal adalah 600 mg, 2 kali sehari.

Penghambat DNA polimerase, 

  • Famciclovir Merek dagang: Famvir KondisiHerpes zoster KondisiHerpes genital
  • Ganciclovir, Merek dagang: Valcyte, Cymevene, Kondisi: Cytomegalovirus retinitis, Kondisi: Cytomegalovirus
  • Valganciclovir, Merek dagang: Valcyte, KondisiCytomegalovirus retinitis
  • Acyclovir, Merek dagang Acyclovir: Acifar, Acifar Cream, Matrovir, Matrovir 400, Zovirax Tablet, Zovirax Tablet, Temiral, KondisiHerpes simplex Tablet, Anak usia <2 tahun: setengah dosis orang dewasa.
  • Valacyclovir, Merek dagang valacyclovir: Cloviar, Iclofar, Inlacyl, Valcor, Vandavir, Valtrex, Zostavir, KondisiHerpes zoster. Kondisi: Herpes genital
    Remaja usia 12 tahun hingga dewasa: 500 mg-1 g, 2 kali sehari, selama 10 hari. Jika kambuh, konsumsi tablet hanya 3-5 hari saja.

1558105902755.jpgwp-1558109408915..jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s