8 Pemeriksaan Kelainan Jantung Bawaan Pada Anak

1494806985242_crop_957x5168 Pemeriksaan Kelainan Jantung Bawaan Pada Anak

Penyakit jantung bawaan atau PJB, merupakan penyakit yang menyerang jantung, yang disebabkan oleh ketidaksempurnaan pada proses pembentukan jantung semasa dalam kandungan. Penyakit jantung bawaan akan menyerang anak-anak dan bayi yang baru lahir. Biasanya gejala dari penyakit ini akan terlihat saat bayi masih berada dalam kandungan, tetapi pada beberapa kasus gejala baru akan terlihat ketika mereka berusia di bawah 5 tahun. Penyakit jantung bawaan sendiri diketahui membunuh anak di bawah umur satu tahun lebih banyak ketimbang penyakit lainnya. Penyakit jantung bawaan sebenarnya adalah penyakit yang terjadi karena adanya kelainan semasa awal pembentukan jantung saat masih janin, hal ini mengakibatkan adanya kelainan pada struktur jantung yang membuat kerja jantung akhirnya menjadi terganggu. Secara umum kelainan jantung bawaan disebabkan oleh kelainan genetik atau pun kromosom. Menurut penelitian 5 hingga 8 persen kasus yang terjadi disebabkan oleh kelainan kromosom. Ada 2 jenis penyakit jantung bawaan, yaitu penyakit jantung bawaan biru atau sianotik, dan penyakit jantung bawaan tidak biru atau asianotik.

Penyakit jantung bawaan atau congenital heart disease adalah kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah dari dan ke jantung, baik yang tergolong ringan ataupun kompleks, sehingga berpotensi membahayakan nyawa. Penderita penyakit jantung bawaan disarankan untuk memantau kondisi jantungnya seumur hidup, walaupun sudah pernah diobati saat masih kecil. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi jika terdapat gejala atau tanda-tanda yang membahayakan sejak dini.

8 Pemeriksaan Kelainan Jantung Bawaan Pada Anak

  1. Ekokardiografi. Tes rekam jantung untuk memeriksa struktur dan gelombang suara ultrasonik pada jantung yang tidak dapat terdeteksi saat masa kehamilan.
  2. Transesophageal echocardiography (TEE). Tes lanjutan yang dilakukan jika hasil ekokardiografi tidak mampu mendeteksi masalah yang dialami penderita. Tes ini menggunakan alat ultrasonografi khusus yang dimasukkan ke dalam kerongkongan dengan bantuan kateter. Pasien akan diberikan suntikan sedatif sebelum metode ini dilakukan.
  3. Elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan fungsi jantung melalui aliran listrik dan pancaran sinyal jantung.
  4. Foto Rontgen. Umumnya dilakukan pada bagian paru dan jantung untuk mengukur banyaknya darah di dalam paru dan ukuran anatomi jantung.
  5. CT scan dan MRI. Tes pemindaian yang dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung secara mendalam, mulai dari struktur hingga aliran darah.
  6. Stress test, yaitu pemeriksaan kondisi jantung, seperti tekanan darah, kecepatan dan irama detak jantung, serta kadar oksigen, saat pasien berolahraga. Tes ini umumnya dilakukan di atas treadmill atau sepeda statis dan direkam dengan alat EKG.
  7.  Pulse oximeter. Tes yang menggunakan alat dengan sensor khusus yang dipasang di ujung kuku tangan, jempol kaki, atau telinga untuk mengukur kadar oksigen dalam darah.
  8. Kateterisasi jantung. Tes yang berfungsi untuk memeriksa aliran darah dan tekanan darah dalam jantung ini dilakukan dengan memasukkan kateter dan cairan perwarna khusus melalui pembuluh darah kunci paha, lengan atau leher, dan dipantau melalui mesin pemindaian sinar-X. Dokter akan memberikan suntikan anestesi lokal sebelum tindakan ini dilakukan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s