Gejala dan Penanganan  Roseola

Gejala dan Penanganan  Roseola

Roseola atau dalam istilah medis lainnya disebut roseola infantum, merupakan infeksi virus yang menyerang bayi atau anak-anak dengan gejala utama berupa demam dan ruam merah muda di kulit. Usia enam bulan hingga satu setengah tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini.

Roseola Infantum paling sering terajdi pada balita antara kisaran 6-18 bulan. Penyebabnya adalah infeksi virus herpes. Ada delapan jenis virus herpes yang dapat menginfeksi manusia, Roseola biasanya disebabkan oleh infeksi dengan tipe 6. Masa inkubasi biasanya antara 10 sampai 15 hari . Anak mungkin terinfeksi selama seluruh periode penyakit. Roseola dapat menyebar sebagaimana penyakit influenza menyebar. Hal ini bisa terjadi ketika salah satu anak yang terinfeksi bersin atau batuk , tetesan kecil cairan yang mengandung virus herpes yang diluncurkan ke udara dan dapat dihirup oleh anak yang lainnya .

  • Gejala roseola biasanya muncul setelah virus berinkubasi di dalam tubuh selama 1-2 minggu. Pada tahap awal, bayi atau anak-anak yang terkena roseola akan mengalami demam tinggi, batuk beserta pilek, nyeri tenggorokan, dan tidak nafsu makan. Selain gejala-gejala tersebut, sebagian penderita juga akan mengalami pembengkakan kelenjar di leher, diare ringan, dan pembengkakan pada kelopak mata.
  • Setelah tiga atau empat hari kemudian, demam biasanya akan mereda dan dilanjutkan dengan munculnya ruam berwarna merah muda yang akan memenuhi bagian punggung, perut, dan dada. Bahkan pada beberapa kasus, ruam-ruam yang tidak terasa gatal atau sakit ini juga muncul di bagian wajah dan kaki. Dalam waktu dua hari biasanya ruam akan berangsur-angsur menghilang.

Penyebab

  • Roseola biasanya disebabkan oleh virus HHV-6 atau virus herpes tipe 6. Penularan virus ini sama seperti kasus-kasus pilek pada umumnya, yaitu secara langsung ketika anak Anda turut menghirup butiran-butiran liur yang dikeluarkan oleh anak penderita roseola yang sedang berada di dekatnya melalui batuk atau bersin dan secara tidak langsung ketika anak Anda memegang benda yang telah terkontaminasi virus HHV-6 atau berbagi penggunaan sesuatu dengan anak penderita roseola, misalnya piring, gelas, dan sendok.

  • Roseola biasanya sembuh dalam waktu satu minggu (terhitung dari munculnya demam sampai ruam) cukup melalui perawatan di rumah
  • Bila anak mengalami demam tinggi hingga lebih dari 39,4 derajat celsius, ruam di kulitnya masih belum hilang setelah tiga hari, atau bahkan mengalami kejang-kejang akibat demamnya, segera periksakan dirinya ke dokter. Komplikasi kejang yang berkaitan dengan demam pada kasus roseola sebenarnya merupakan hal yang jarang terjadi.
  • Saat anak mulai mengalami demam, harus beristirahat di atas tempat tidurnya secara total sampai kondisinya benar-benar pulih. Jagalah suhu kamar anak Anda agar tetap sejuk dan jangan beri dia selimut yang terlalu tebal.
  • Berikan anak minum sesering mungkin meski dia tidak merasa haus agar demam bisa cepat reda dan terhindar dari dehidrasi.
  • Pemberian obat obatan pereda sakit seperti parasetamol dan ibuprofen secara bersamaan. Tujuannya adalah untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi akibat demam. Untuk mempermudah anak mengkonsumsi obata obatan tersebut, kita bisa memilih jenis obat pereda sakit dalam bentuk cair. Ada banyak merek yang bisa kita beli. Untuk dosis, kita bisa mengikuti aturan yang biasanya tertulis dalam kemasan tersebut. 
  • Penggunaan obat ini bukan untuk menghilangkan penyebab atau menghilankan virus, akan tetapi hanya untuk meredakan demam saja. Ada kalanya obat obatan ini dihindari seperti jika bayi memiliki penyakit asma, hipersensitiv terhadapa ibuprofen, dan anak yang menderita cacar air.
  • Suhu tubuh yang tinggi (demam) biasanya akan membuat anak mengalami kekurangan cairaran atau dehidrasi karena cairan keluar dalam bentuk keringat. Untuk menghindari hal ini, jangan lupa untuk memberikan asupan berupa cairan. Ttanda dan gejala jika anak anak mengalami dehidrasi diantara mulut kering , tidak ada air mata , mata cekung , dan mengantuk.
  • Sebisa mungkin hindari penggunaan obat-obatan pereda rasa sakit, seperti ibuprofen atau parasetamol, kecuali anak  merasa tertekan akibat kondisinya tersebut. Jangan berikan aspirin pada anak di bawah usia 16 tahun tanpa resep dari dokter.
  • Pemberian obat harus selalu menaati petunjuk penggunaannya, baik yang tertera pada kemasan (apabila obat tersebut dijual bebas di apotik) maupun dari dokter (apabila diresepkan). Pemberian dosis di luar ketentuan bisa berbahaya.

Pencegahan 

  • Anak-anak yang sudah pernah terkena roseola umumnya tidak akan terkena kondisi ini lagi untuk kedua kalinya karena antibodi yang sudah mampu melawan virus HHV-6 sudah terbentuk. Karena itu kasus roseola pada orang dewasa merupakan hal yang sangat langka, terkecuali penderita belum pernah terkena kondisi ini saat kecil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena suatu kondisi (misalnya akibat virus HIV atau akibat efek samping pengobatan kemoterapi).
  • Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah roseola karena itu langkah terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah penularannya adalah menjauhkan anak Anda dari penderita agar tidak terpapar. Begitu pula sebaliknya, jika anak  sedang sakit roseola, liburkan dahulu seluruh aktivitas yang biasa dia lakukan di luar (misalnya bermain atau belajar) hingga gejalanya sembuh total.
  • Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan apabila terdapat penderita roseola di rumah agar kita tidak menjadi media penularan secara tidak langsung di luar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s