Prosedur dan Cara Donor ASI


image

PROSEDUR DAN CARA DONOR ASI

Praktik donor ASI belakangan lazim terjadi di kota besar seperti jakarta da surabaya. Informasi itu seringkali disampaikan melalui media sosial pada ibu yang membutuhkan. Si calon penerima lalu menghubungi pendonor, jika semua setuju, mereka akan menyepakati mekanisme pengambilan ASI. Donor ASI merupakan alternatif solusi bagi para ibu yang berkomitmen memberikan ASI namun mengalami kendala. Di antaranya, ibu cacat sehingga tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya serta ia dirawat di rumah sakit, juga ibu yang dilarang dokter untuk memberi ASI karena dapat menularkan penyakit pada bayi, dan tentu saja bayi yang ibunya meninggal.

Dampak Yang harus diwaspadai:

Penerima donor seringkali tidak pernah tahu ibu pendonor ASI benar-benar sehat atau tidak, kecuali mereka yang telah memiliki rekam medis yang menguatkan hal ini.Faktor budaya, keprcayaan dan  agama dari si penerima donor ASI akan menjadi saudara sepersusuan bagi semua anak pendonor ASI, yang berarti mereka menjadi mahram dan tidak boleh saling menikah selamanya. ASI merupakan saripati makanan ibu yang akan tumbuh menjadi daging dan tulang bagi anak yang meminum ASI tersebut, karena itu perlu dipastikan benar bahwa pendonor ASI tidak pernah mengonsumsi hal-hal yang haram.

Persyaratan Donor ASI: Pelaku donor ASI di Indonesia dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 yang berisi persyaratan-persyaratan khusus untuk para pendonor dan penerima donor ASI, yaitu:

Donor ASI dilakukan sesuai permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.Identitas, agama dan alamat pendonor ASI diketahui jelas oleh ibu kandung atau keluarga bayi penerima ASI.Mendapat persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI.Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis.ASI tidak diperjualbelikan.

Prosedur Ideal

Praktik pemberian ASI di Indonesia masih sederhana tidk seperti dilakukan di negara maju. Di negara maju donor ASI diatur oleh lembaga yang disebut Bank ASI.Calon pendonor ASI diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas penyakit berbahaya.ASI donor akan dipasteurisasi atau mengalami proses pemanasan pada suhu rendah (62,5-63 derajat Celcius) selama 30 menit untuk mematikan virus dan bakteri berbahaya, seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan CMV (Citomegalovirus).ASI disimpan dalam freezer dengan suhu minimal minus 20 derajat Celcius untuk memastikan komposisi ASI tidak mengalami perubahan.

Tahapan Prosedur Pendonor ASI

Tahapan Penapisan Awal

Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulanSehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusuiProduksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebihTidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhirTidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi. Obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASITidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol

Tahapan Penapisan Lanjutan

Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur)Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan setiap 3 bulanSetelah melalui tahapan penapisan, ASI harus diyakini bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan

Cara penympanan ASI Donor

Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca (sisa selai) 450 ml.Tutup wadah kaca dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 literTuangkan air mendidih 450ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panciDapat diletakkan pemberat diatas wadah kaca, kemudian tunggu selama 30 menitPindahkan susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

image
Fisiologi laktasi yang terjadi pada relaktasi dan induksi laktasi

Flash Heating

Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca 450 mlWadah kaca ditutup sampai saat dilakukan flash heatingUntuk melakukan flash heating, buka tutup wadah dan letakkan dalam 1 liter Hart Pot (pemanas susu)Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panciDidihkan air, bila telah timbul gelembung pindahkan wadah dengan cepat dari air dan sumber panasDinginkan ASI, berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

Mutu dan Keamanan ASI

Mutu dan keamanan ASI meliputi kebersihan, cara penyimpanan, pemberian, dan pemerahan ASI:

Calon pendonor ASI harus mendapatkan pelatihan tentang kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASISebelum memerah ASI, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersihASI diperah di tempat bersih. Bila menggunakan pompa, gunakan yang bagiannya mudah dibersihkan. Pompa ASI tipe balon karet berisiko terkontaminasi.ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar (perhatikan tata cara penyimpanan ASI)

Unit Donor ASI

Unit Donor ASI mutlak ada untuk mempermudah akses pendonor dan penerima, menjamin keamanan, etik dan terjaminnya kesehatan yang optimal.Sesuai prosedur dan protokol standar internasional pengelolaan ASI donor.Memiliki Tim konsultan yang mencakup bidang ilmu terkait dan staf yang terlatih

Pencatatan

Pencatatan menjadikan bagian penting dalam proses donor ASI, yang mencakup identitas pendonor, lembar persetujuan, kuesioner dan hasil tes skrining penyakit, keterangan resipien, data pelengkap administrasi, dsb.Peran pemerintah melalui Kementerian terkait atau badan khusus sangat diperlukan untuk pelaksanaan dan pengawasan kegiatan donor ASI. Kebijakan pemerintah diperlukan untuk penggunaan ASI donor.

Sumber: www.asilaktasi.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s